SAMARINDA – Ketua Umum DPP PUSAKA, Prof. Abdunnur, menegaskan pentingnya memasukkan kurikulum budaya lokal ke dalam sistem pendidikan Kalimantan Timur. Menurutnya, budaya adalah sarana menjaga kebhinekaan, memperkuat kebangsaan, dan melindungi NKRI.
Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Budaya bertema “Warisan Budaya Kalimantan Timur: Pelestarian, Tantangan, dan Regenerasi” yang digelar di Hotel Mesra Internasional, Samarinda, Sabtu (14/2/2026). Acara menghadirkan Awang Irwan Setiawan (Budayawan Kaltim), Hamdani (Budayawan Kaltim), serta Ririn Sari Dewi (Kepala Dinas Pariwisata Kaltim). Acara dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Arief Murdiyanto.
Prof. Abdunnur menekankan komitmen PUSAKA dengan tagline SIP (Save, Intelektual, Profesional) untuk menjaga dan mengembangkan budaya.
Sedangkan Ketua Panitia, Dr. Ibrahim, menyoroti hilangnya seni tradisional seperti Mamanda, Lamut, Madihin, dan Tingkilan, serta pergeseran nilai kebersamaan akibat dominasi gawai. Ia mencontohkan Jepang yang mampu melestarikan Kabuki sebagai inspirasi pelestarian budaya.
Seminar ini menjadi bagian dari Milad ke-21 PUSAKA dan diharapkan memantik gerakan regenerasi budaya di Kalimantan Timur.
Diakhir Acara Penadatanganan dan Pembacaan Komitmen dan Rekomendasi Hasil Seminar Budaya.
Kegitan yang berkapasitas 150 Peserta di Ruang Mancong, Lantai 2 Hotel Mesra, Samarinda, terlihat hadir Yusan Triananda, Tokoh Masyarakat Kaltim Sekaligus Direktur Hotel Mesra Internasional, Ketua Harian DPP PUSAKA: Asia Muhidin, S.Pd, Tokoh Budaya Banjar, Tokoh Budaya Kutai, Akademisi Unmul, UINSI dan UMKT, Dinas Terkait serta Mahasiswa
Info Borneo-Arif