Riset & Inovasi

Riset & Inovasi (2)

Hasil Riset dan Temuan Inovasi

Penderita Covid Berat untuk Sembuh dapat menggunakan Terapi Plasma Konvaselen

28
Jun

Penderita Covid Berat untuk Sembuh dapat menggunakan Terapi Plasma Konvaselen

Terapi Darah Pasien Covid-19 yang telah dinyatakan empat minggu sembuh bisa jadi Alternatif untuk kesembuhan Pasen-Covid kondisi Berat sebagaiman pernyataan Menristek/Kepla BRIN Bambang P.S.Brodjonegoro pada Konfernsi pers” inovasi untuk merespos Pandemi Covid-19” di Graha BNPB. Jakarta Menjelaskan” Terkait konvalesan plasma, dari hasil Penelitian yang sudah dilakukan di RSPAD sudah mulai ada hasil yang cukup melegakan. Karena itu Menristek/BRIN melalui LBM Eijkman berkerja sama dengan Kemenkes akan melakukan Riset yang lebih besar lagi melibatkan banyak rumah sakit di berbagai daerah tidak hanya di Jakarta untuk mengembangkan konvalesen plasma ini. Kita harapkan konvalesen plasma ini bisa jadi alternatif untuk meningkatkan tingkat kesembuhan dari Penderita Covid-19” Sebagaimana di kutif Info Borneo dari Majalah Inovesia, Majalah Inovasi Indonesia Edisi II/April-Juni/2020 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional

Dengan mengambil darah pasien positif covid-19 yang telah dinyatakan empat minggu sembuh dan memberikan plasma darahnya ke tubuh pasien Covid-19 yang mengalami kondisi berat dengan jumlah virus yang masih banyak sementara antibodinya belum berkerja.

Kenapa Harus 4 Minggu sejak dinyatakan sembuh?

Rentan waktu ini menjadi faktor yang penting, agar titer (kekuatan atau konsentrasi) antibodi yang ada di dalam plasma darah tersebut masih tinggi dan dipastikan dalam rentan waktu tersebut plasma darah telah bebas dari virus

Cara Mendonorkan plasma darah?

Pendonor akan menjalani proses screening terlebih dahulu untuk memastikan darahnya sehat dan aman. Kemudian darah yang telah diambil dialirkan ke mesin khusus untuk memisahkan plasma. Proses ini disebut Plasmapheresis. Setelah proses pemisahan plasma darah, komponen darah lainnya kemudian dikembalikan ke tubuh pendonor.

Tes Air Liur digunakan Untuk Mendeteksi Geger Otak Atlit

24
Mar

Tes Air Liur digunakan Untuk Mendeteksi Geger Otak Atlit

Tes objektif untuk mendiagnosis gegar otak di pinggir lapangan bagi pertandingan yang besesiko tinggi bagi atlit. Mneghasilkan Bahwa air Liur bisa di gunakan untuk mendeteksi Geger otak atlit, dengan mengidentifikasi biomarker dalam air liur. Hal ini bisamembantu dokter mendiagnosis gegar otak secara lebih konsisten dan akurat.

Penlitian yang dipimpin oleh University of Birmingham dan sebagian didanai oleh Rugby Football Union yang dipublikasi dalam British Journal of Sports Medicine. Identifikasi biomarker dalam air liur menciptakan kemungkinan tes klinis non-invasif untuk gegar otak.
Menurut penulis pertama laporan itu dikutif dari theguardian.com, Dr Valentina Di Pietro, teknologi untuk membuat tes tersedia di pinggir lapangan dapat dikembangkan dalam tiga sampai lima tahun.

"Untuk pertama kalinya kami berhasil mengidentifikasi bahwa penanda biologis saliva spesifik ini dapat digunakan untuk menunjukkan apakah seorang pemain mengalami gegar otak," kata Profesor Antonio Belli, penulis senior laporan tersebut. “Kami sekarang memiliki tes diagnostik non-invasif berbasis laboratorium menggunakan air liur, yang merupakan pengubah permainan nyata, dan menyediakan alat yang sangat berharga untuk membantu dokter mendiagnosis gegar otak secara lebih konsisten dan akurat.

“Tes ini dapat digunakan tidak hanya dalam olahraga, dari tingkat akar rumput hingga profesional, tetapi juga dalam perawatan kesehatan dan pengaturan militer. Dalam olahraga komunitas, penanda biologis ini dapat memberikan tes diagnostik yang keakuratannya sebanding dengan tingkat penilaian yang tersedia dalam pengaturan olahraga profesional. "

Biomarker yang diidentifikasi disebut microRNA, ditemukan pada tahun 1993. Ini menarik karena perubahan di dalamnya yang diamati setelah cedera merupakan prekursor untuk produksi jenis molekul protein yang biasanya diuji sebagai biomarker. Mereka juga jauh lebih kecil. Ini membuat mereka menjadi pengukur neurotrauma yang lebih sensitif.

“Mereka bekerja secara berbeda dari biomarker protein,” kata Belli dikutif dari theguardian.com. “MicroRNA adalah pesan yang dikirimkan sel sebagai respons terhadap suatu peristiwa, seperti cedera otak. Ini adalah kode yang dikirim sel satu sama lain untuk mengatakan: 'Anda tidak membutuhkan gen-gen ini,' atau: 'Anda memang membutuhkan gen-gen lain ini,' sebagai tanggapan. Dan tempat di mana Anda menemukan mikroRNA paling banyak adalah air liur. Kelenjar ludah terhubung langsung ke otak oleh saraf. Kami melihat respons ini dalam beberapa menit setelah cedera. "Belli dan Di Pietro, adalah anggota pendiri sebuah perusahaan bernama Marker Diagnostics.

#InfoBorneo @2021