Aksi Turun Ke Jalan Mahasiswa dan Buruh dalam Menolak UU Omnibus Law di Samarinda Berujung Ricuh

08
Okt

Aksi Turun Ke Jalan Mahasiswa dan Buruh dalam Menolak UU Omnibus Law di Samarinda Berujung Ricuh

Samarinda,- Dampak dari Pengesahan Undang- Undang cipta Kerja atau Omnibus Law oleh DPR RI menyebabkan penolakkan keras dari berbagai elemen masyarakat, banyak masyarakat menilai jika Undang – undang ini sangat tidak pro dengan rakyat terutama para kaum pekerja/buruh. Penolakkan terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia, salah satunya di daerah kota Samarinda, Kalimantan Timur, aksi unjuk rasa oleh pihak mahasiswa dan buruh untuk menolak pengesahan Undang- Undang Omnibus law ini terjadi pada (7/10). Mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Samarinda ramai – ramai turun ke jalan bersama para buruh dengan membawa tuntutan agar pihak pemerintah dapat mencabut pengesahan Undang  - undang Omnibus Law tersebut, unjuk rasa yang dilakukan berpusat pada kantor DPRD kaltim.

                Mahasiswa dan buruh menilai adanya kepentingan pihak – pihak tertentu di dalam pengesahan Undang – Undang Omnibus Law yang dilakukan oleh DPR, terlebih lagi pengesahannya dinilai sangat kilat dan secara tiba – tiba tanpa melibatkan masyarakat terlebih dahulu, walaupun dari pihak DPR langsung membantah tuduhan tersebut dengan menyebut pengesahan Undang- Undang ini telah sesuai prosedur dalam kurun waktu yang cukup dan sudah melibatkan masyarakat pula.

            Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dan buruh untuk menolak UU Omnibus Law di Samarinda pada awalnya berjalan dengan damai dan kondusif, namun karena tidak kunjung ditemui oleh perwakilan dari pihak DPRD Kaltim membuat aksi massa memutuskan untuk memaksa masuk ke dalam area gedung DPRD Kaltim yang akhirnya membuat keadaan menjadi ricuh, dengan mendobrak pintu gerbang disertai lembaran batu dan botol oleh beberapa oknum ke dalam kerumunan barikade polisi kericuhan pun pecah dan tak terelakkan lagi antara polisi dengan massa aksi mahasiswa dan buruh.

            Kericuhan yang semakin memanas membuat pihak kepolisian mengambil langkah tegas dengan berusaha membubarkan massa aksi, dengan melepaskan tembakan water canon. Massa aksi pun akhirnya terpecah ketika pihak kepolisian menembakan gas air mata ke kerumunan aksi.

            Atas kericuhan tersebut kepolisian mengamankan beberapa mahasiswa yang dituding menjadi provokator kericuhan dan digiring masuk ke dalam area gedung DPRD Kaltim, dan beberapa mahasiswa lainnya kabur dari kejaran aparat kepolisian. Dari kericuhan di aksi tersebut banyak berjatuhan korba luka – luka mulai dari pihak aksi yaitu mahasiswa dan buruh maupun dari pihak kepolisian.

Share this post: